Selamat Datang di Website Al-Muhajirin Tour dan Travel (PT.DMI) Purwakarta #l# Info Umrah : Bulan Oktober - November - Desember 2023 Hub : Jajang (087778723514)

Friday, April 1, 2016

TAUBAT YANG DITOLAK

Q.S. Ali Imran : 90
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوْا كُفْرًا لَّنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَاُوْلٰئِكَ هُمُ الضَّآلُّوْنَ
Sungguh, orang-orang yang kafir setelah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, tidak akan diterima Taubatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat.
I
mam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa melalui ayat ini Allah SWT mengancam dan memperingatkan orang yang kafir sesudah imannya, kemudian kekafirannya makin bertambah, yakni terus-menerus dalam kekafirannya hingga mati, bahwa Taubat mereka tidak diterima di saat matinya. Imam al-Baghawi dalam tafsirnya mengutip beberapa pendapat tentang sebab turunnya ayat ini. Imam Qatadah dan Hasan berpendapat bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang YAHUDI yang kafir terhadap Nabi Isa dan Injil setelah sebelumnya mempercayainya. Lalu kekufuran mereka bertambah dengan tidak mempercayai risalah Nabi Muhammad SAW dan al-Qur’an. Abu al-Aliyah berpendapat bahwa kaum kafir pada ayat ini adalah orang YAHUDI dan NASHRANI yang kafir terhadap Nabi Muhammad SAW ketika mereka melihat beliau. Padahal mereka telah beriman dengan sifat-sifat beliau yang dijelaskan dalam kitab mereka terdahulu.
Sementara imam Mujahid berpendapat bahwa ayat ini berlaku untuk semua kaum kafir yang berbuat syirik setelah bersaksi bahwa Allah adalah pencipta mereka.  Dalam tafsir al-Munir, Imam Wahbah Az-Zuhaily menambahkan bahwa golongan kaum kafir ini tidak bertaubat dengan benar sehingga taubat mereka tidak akan diterima. Termasuk ke dalam golongan ini adalah para ahli kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW, bersaksi atas kebenaran itu bahkan sebelum Nabi SAW diutus. Namun mereka kafir setelah Nabi Muhammad SAW diutus, bahkan kekafiran mereka bertambah dengan cara menentang Rasulullah SAW dan memerangi kaum mukminin. Golongan kaum kafir seperti ini tidak akan diterima taubat mereka selama mereka kufur dan mati dalam kekufuran.
Mereka tetap berada dalam kesesatan jauh dari jalan kebenaran dan keselamatan sehingga menetapkan kekufuran dalam hati mereka. Ayat ini pun, tambah Imam Wahbah  Az-Zuhaily, menunjukkan bahwa kekufuran itu bisa bertambah kuat dalam hati dengan perbuatan-perbuatan tertentu yang memupuk kekufuran tersebut. Sama halnya dengan keimanan yang dapat bertambah dan berkurang dengan bertambah atau berkurangnya amal shalih.  Sementara itu, taubat merupakan media pensucian, pembersihan, dan perbaikan.
Oleh karena itu, barang siapa yang lalai memperbaiki dirinya maka dia akan merugi
Sebaliknya orang yang senantiasa melakukan perbaikan pada dirinya maka ia akan beruntung. Ringkasnya, bila kesalahan dan dosa yang menggunung tidak diimbangi dengan penyucian diri maka akan sulit kembali kepada jalan yang lurus. Dalam bahasa Imam Al-Maraghi, orang seperti itu jangan diharapkan mendapat hidayah dan taubat mereka pun tidak akan diterima. Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْءَ بِجَهَلَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَأُولٰئِكَ يَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
Sesungguhnya berTaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha mengetahui, Maha bijaksana. (QS. An-nisaa: 17)
Sebagian orang awam mungkin beranggapan bahwa ayat ini bertentangan dengan QS. Asy-Syura ayat 25 yang menyebutkan bahwa Allah menerima taubat para hamba-Nya dan Dia memaafkan semua kesalahan. Oleh karena itu, Imam al-Qurthubiy dalam tafsirnya menjelaskan beberapa penafsiran dari ayat tersebut. Pertama, bahwa tidak diterimanya taubat orang-orang kafir tersebut adalah ketika mereka mati dalam ke ka=firan. Pendapat ini diperkuat hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تّوْبَةَ الْعَبْدِ مَالَمْ يُغَرْغِرْ
Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.
Kedua, taubat yang tidak diterima dalam ayat ini adalah taubat yang mereka lakukan sebelum mereka kafir, karena kekufuran itu membatalkan taubat. Ketiga, taubat tidak diterima karena mereka bertaubat dari satu kekufuran ke kekufuran yang lain. Karena taubat yang diterima itu bila mereka bertaubat dari kekufuran kepada Islam.
Syarat diterimanya taubat
Taubat berkaitan erat dengan kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, taubat tidak saja dikaitkan dengan orang-orang kafir, karena orang-orang yang beriman sekalipun memerlukan taubat untuk memperbaiki diri dari semua kesalahan dan dosanya. Allah Maha Menerima Taubat (at-Tawwab) yang mencintai orang-orang yang bertaubat. Cinta-Nya digambarkan dalam hadits Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda:

لَوْ أَنَّ الْعِباَدَ لمَْ يذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ 

Seandainya hamba‑hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian mengampuni mereka. (HR Al Hakim)

Ibnul Qoyyim mengingatkan pentingnya taubat ini dalam kitab Madaarij as-Saalikiin dengan berkata, “Bertaubat dengan segera merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan dan tidak boleh ditunda.” 
Imam An-Nawawi menambahkan,  ”Seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa‑dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.”
Agar taubat kita diterima setidaknya maka kita harus memenuhi tiga hal yaitu: (1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak tidak mengulangi (4)Kalau bertaubat dari dosa dengan sesama makhluk maka hendak membereskan persoalannya langsung dengan yang bersangkutan, kalau berhubungan dengan uang atau benda maka harus dikembalikan dulu hartanya, kalau berhubungan dengan nama baik atau kehormatan maka hendaknya minta maaf. Kalau belum ada ishlah dengan sesama manusia maka persoalannya berujung di akhirat.
 Semoga Allah selalu melunakkan hati kita untuk bisa selalu bertaubat dan menjadikan istighfar yang kita panjatkan dapat menghapus dosa‑dosa yang begitu banyak. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amal sholih sehingga dapat menutup kesalahan‑kesalahan yang kita lakukan.

اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ
 “Aku mohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung”


*)  Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin

No comments:

Contoh Tulisan Berjalan

Post a Comment