Q.S. Ali Imran : 26
قُلِ اللهم
مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ
وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلٰى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut
kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
قُلِ
Katakanlah
|
اللهم
Ya Allah
|
مٰلِكَ
Pemilik
|
الْمُلْكِ
Kerajaan
|
تُؤْتِى
Engkau memberikan
|
الْمُلْكَ kerajaan
|
مَنْ
(pada) siapa
|
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
|
وَ
dan
|
تَنْزِعُ
Engkau Mencabut
|
الْمُلْكَ
Kerajaan
|
مِمَّنْ
Dari siapa
|
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
|
وَ
Dan
|
تُعِزُّ
Engkau muliakan
|
مَنْ
Siapa
|
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
|
وَ
Dan
|
تُذِلُّ
Engkau Hinakan
|
مَنْ
Siapa
|
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
|
بِيَدِكَ
Di tangan-Mu
|
الْخَيْرُ
kebajikan
|
إِنَّكَ
Sesungguh-nya
Engkau
|
عَلٰى
atas
|
كُلِّ
segala
|
شَيْءٍ
sesuatu
|
قَدِيْرٌ
Maha Kuasa
|
D
|
alam
Tafsir al-Maraghiy dijelaskan bahwa dalam ayat ini Allah jalla
jalaluhu menjelaskan tentang keadaan Nabi SAW serta umat musyrik dan para
ahli kitab sebagai obyek dakwahnya. Orang-orang musyrik mengingkari kenabian
seseorang yang makan dan berjalan di pasar-pasar, sedangkan para ahli kitab
mengingkari nabi yang tidak berasal dari keluarga Israel. Ayat ini menjadi
penghibur bagi Nabi atas penentangan serta kesombongan orang-orang yang munkar
sekaligus peringatan bagi beliau tentang kekuasaan Allah untuk menolong dan
meninggikan agama-Nya. Seakan-akan Allah berfirman kepada Nabi: “Bila para
penentang itu berpaling darimu dan bukti-bukti nyata tidak memuaskan
orang-orang musyrik dan para ahli kitab sehingga mereka tenggelam dalam
kebodohan dan keyakinan yang salah, maka hendaknya engkau datang dan kembali
kepada Allah ta’ala melalui doa dan pujian serta menyadari bahwa Dia-lah yang
mengatur segala perkara.”
Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Qotadah
menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan saat Nabi SAW berdoa kepada Allah agar
menjadikan kerajaan Persia dan Romawi menjadi bagian dari Islam. Sementara Ibnu
Abbas dan Anas bin Malik mengatakan saat Mekah dibebaskan dari kekuasaan kaum
kafir Quraisy, Nabi SAW berjanji kepada umatnya untuk menguasai Persia dan
Romawi. Orang-orang munafik dan Yahudi berkata: “Bagaimana mungkin Muhammad
menguasai Persia dan Romawi, padahal mereka lebih kuat dan lebih memiliki
perlindungan? Apakah Mekah dan Madinah tidak cukup bagi Muhammad sehingga dia
dengan tamak ingin pula menguasai Persia dan Romawi?” Maka Allah kemudian
menurunkan ayat ini.
Ayat ini adalah salah satu yang berbicara tentang qudratullah
wa ‘adzomatuhu, kekuasaan Allah dan keagungannya. Allah amat berkuasa dalam mencipta dan
mengatur segala urusan mahkluknya. Segala urusan diserahkan sepenuhnya pada-Nya
karena pada-Nyalah kuasa untuk menentukan sesuatu itu baik atau sebaliknya.
Di dalam Tafsir
Ibnu Katsir diterangkan bahwa ayat ini mengandung isyarat dan bimbingan
yang menganjurkan untuk mensyukuri nikmat Allah Swt., yang ditujukan kepada Rasul-Nya
dan umatnya. Karena Allah Swt. mengalihkan kenabian dari kaum Bani Israil
kepada nabi dari kalangan bangsa Arab, yaitu dari keturunan kabilah Quraisy
yang ummi dari Mekah sebagai penutup semua nabi, serta sebagai
utusan Allah kepada segenap manusia dan jin. Allah menganugerahkan kenabian kepada siapa yang
dikehendakinya, seperti firman-Nya:
اللهُ
اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas
kerasulan. (QS. Al-An’am: 124)
Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an
menyebutkan bahwa tidak ada seorang pun yg memiliki kekuatan mutlak yang
membuatnya dapat berbuat sekehendak nafsunya. Kekuasaan itu hanyalah pinjaman
dengan syarat-syarat tertentu sesuai dengan ketentuan Pemilik kekuasaan yang
mutlak dan harus memenuhi ajaran-ajaran-Nya. Bila si peminjam dalam menggunakan
kekuasaan menyalahi syarat yang telah ditetapkan Pemiliknya, maka yang
dilakukannya itu adalah batil.
Imam Al-Baghawi menambahkan bahwa Allah memuliakan
seseorang dengan iman, hidayah, taat, pertolongan, kekayaan, qanaah dan
keridhaan serta menghinakan seseorang melalui kekufuran, kesesatan, maksiat,
kekalahan, kefakiran, kekikiran, dan ketamakan.
Sebuah pelajaran besar yang dapat diambil dari ayat ini
adalah hidup ini dalam segala bidangnya senantiasa terdiri dari pihak yang pro
dan kontra. Peran apapun yang kita mainkan harus didasarkan pada keyakinan
bahwa keberadaan kedua kelompok ini merupakan sunnatullah
yang berada di bawah kuasa-Nya.
Keyakinan ini membuat kita bersabar dalam bertawakal dan
berserah diri kepada-Nya dalam melaksanakan setiap tugas yang kita emban
sebagai khalifahtullah fil ardh. Selain itu, dengan berbekal keyakinan
ini, kita pun akan terhindar dari sifat putus asa terhadap rahmat Allah. Allah
akan menggantikan generasi yang ingkar dengan
orang-orang yang tidak takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Maidah
ayat 54 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu
yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut
terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,
dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
Dalam ayat ini Allah menerangkan pula bahwa segala kebajikan terletak di tangan(kekuasaan)-Nya
baik kenabian, kekuasaan ataupun kekayaan. Ini
menunjukkan bahwa Allah SWT sendirilah yang memberikan kebaikan itu menurut kemauan-Nya. Tidak ada seorangpun yang
memiliki kebajikan itu selain Allah SWT. Meskipun dalam ayat ini hanya
disebutkan kebajikan saja sebenarnya segala yang buruk dan jahat juga ada di
bawah kekuasaan Allah SWT. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat
menghalangi-Nya apabila Dia memberikan kemuliaan maupun kehinaan kepada semua
orang yang dikehendaki Nya. Sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam firman
Nya:
وَنُرِيْدُ اَنْ
نَمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً
وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ
Dan Kami hendak
memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak
menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi
(bumi) (QS. Al-Qashash: 5)
Tidak ada siapa pun yang dapat beranggapan bahwa mereka akan tetap berkuasa
walaupun telah memerintah negara setengah abad, walaupun mereka menggunakan
berbagai cara untuk menghalalkan tindakkannya. Sejarah dunia telah membuktikan
bahwa setiap pemerintah zalim yang merampas hak rakyat, mengutamakan kroni atau
ahli keluarga daripada rakyat jelata, hidup bermewah-mewah, pilih kasih dan mealkukan
korupsi, maka golongan ini tidak mustahil akan digantikan dengan golongan yang
lebih baik, tulus dan amanah.
Allah
SWT Maha Berkuasa dan Maha Bijaksana dan Dia mampu merubah sistem kehidupan di
muka bumi. Oleh itu kita perlu menyadari bahwa
hidup kita di dunia ini hanya sementara dan kehidupan yang sebenarnya
adalah di kampung akhirat, sehingga kita waspada, tidak tertipu dengan bujuk rayu
dunia dan berhati-hati ketika memilih
pemimpin karena kita semua akan diminta pertanggungjawaban atas pilihan yang kita tetapkan
di dunia ini.
*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin

No comments:
Post a Comment