Selamat Datang di Website Al-Muhajirin Tour dan Travel (PT.DMI) Purwakarta #l# Info Umrah : Bulan Oktober - November - Desember 2023 Hub : Jajang (087778723514)

Sunday, April 6, 2014

KEKUASAAN HAKIKI HANYALAH MILIK ALLAH



Q.S. Ali Imran : 26
قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

                                                                                                                                                                     

قُلِ
Katakanlah
اللهم
Ya Allah
مٰلِكَ
Pemilik
الْمُلْكِ  
Kerajaan
تُؤْتِى  
Engkau memberikan
الْمُلْكَ kerajaan
مَنْ
(pada) siapa
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَ
dan
تَنْزِعُ
Engkau Mencabut
الْمُلْكَ
Kerajaan
مِمَّنْ
Dari siapa
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَ
Dan
تُعِزُّ
 Engkau muliakan
مَنْ
Siapa
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
وَ
Dan
تُذِلُّ
Engkau Hinakan
مَنْ
Siapa
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
بِيَدِكَ
Di tangan-Mu
الْخَيْرُ
kebajikan
إِنَّكَ
Sesungguh-nya Engkau
عَلٰى
atas
كُلِّ
segala
شَيْءٍ
sesuatu
قَدِيْرٌ
Maha Kuasa

D
alam Tafsir al-Maraghiy dijelaskan bahwa dalam ayat ini Allah jalla jalaluhu menjelaskan tentang keadaan Nabi SAW serta umat musyrik dan para ahli kitab sebagai obyek dakwahnya. Orang-orang musyrik mengingkari kenabian seseorang yang makan dan berjalan di pasar-pasar, sedangkan para ahli kitab mengingkari nabi yang tidak berasal dari keluarga Israel. Ayat ini menjadi penghibur bagi Nabi atas penentangan serta kesombongan orang-orang yang munkar sekaligus peringatan bagi beliau tentang kekuasaan Allah untuk menolong dan meninggikan agama-Nya. Seakan-akan Allah berfirman kepada Nabi: “Bila para penentang itu berpaling darimu dan bukti-bukti nyata tidak memuaskan orang-orang musyrik dan para ahli kitab sehingga mereka tenggelam dalam kebodohan dan keyakinan yang salah, maka hendaknya engkau datang dan kembali kepada Allah ta’ala melalui doa dan pujian serta menyadari bahwa Dia-lah yang mengatur segala perkara.”
Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Qotadah menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan saat Nabi SAW berdoa kepada Allah agar menjadikan kerajaan Persia dan Romawi menjadi bagian dari Islam. Sementara Ibnu Abbas dan Anas bin Malik mengatakan saat Mekah dibebaskan dari kekuasaan kaum kafir Quraisy, Nabi SAW berjanji kepada umatnya untuk menguasai Persia dan Romawi. Orang-orang munafik dan Yahudi berkata: “Bagaimana mungkin Muhammad menguasai Persia dan Romawi, padahal mereka lebih kuat dan lebih memiliki perlindungan? Apakah Mekah dan Madinah tidak cukup bagi Muhammad sehingga dia dengan tamak ingin pula menguasai Persia dan Romawi?” Maka Allah kemudian menurunkan ayat ini.
Ayat ini adalah salah satu yang berbicara tentang qudratullah wa ‘adzomatuhu, kekuasaan Allah dan keagungannya. Allah amat berkuasa dalam mencipta dan mengatur segala urusan mahkluknya. Segala urusan diserahkan sepenuhnya pada-Nya karena pada-Nyalah kuasa untuk menentukan sesuatu itu baik atau sebaliknya.
Di dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa ayat ini mengandung isyarat dan bimbingan yang menganjurkan untuk mensyukuri nikmat Allah Swt., yang ditujukan kepada Rasul-Nya dan umatnya. Karena Allah Swt. mengalihkan kenabian dari kaum Bani Israil kepada nabi dari kalangan bangsa Arab, yaitu dari keturunan kabilah Quraisy yang ummi dari Mekah sebagai penutup semua nabi, serta sebagai utusan Allah kepada segenap manusia dan jin. Allah  menganugerahkan kenabian kepada siapa yang dikehendakinya, seperti firman-Nya:
اللهُ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (QS. Al-An’am: 124)

Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menyebutkan bahwa tidak ada seorang pun yg memiliki kekuatan mutlak yang membuatnya dapat berbuat sekehendak nafsunya. Kekuasaan itu hanyalah pinjaman dengan syarat-syarat tertentu sesuai dengan ketentuan Pemilik kekuasaan yang mutlak dan harus memenuhi ajaran-ajaran-Nya. Bila si peminjam dalam menggunakan kekuasaan menyalahi syarat yang telah ditetapkan Pemiliknya, maka yang dilakukannya itu adalah batil.
Imam Al-Baghawi menambahkan bahwa Allah memuliakan seseorang dengan iman, hidayah, taat, pertolongan, kekayaan, qanaah dan keridhaan serta menghinakan seseorang melalui kekufuran, kesesatan, maksiat, kekalahan, kefakiran, kekikiran, dan ketamakan.
Sebuah pelajaran besar yang dapat diambil dari ayat ini adalah hidup ini dalam segala bidangnya senantiasa terdiri dari pihak yang pro dan kontra. Peran apapun yang kita mainkan harus didasarkan pada keyakinan bahwa keberadaan kedua kelompok ini merupakan sunnatullah yang berada di bawah kuasa-Nya.
Keyakinan ini membuat kita bersabar dalam bertawakal dan berserah diri kepada-Nya dalam melaksanakan setiap tugas yang kita emban sebagai khalifahtullah fil ardh. Selain itu, dengan berbekal keyakinan ini, kita pun akan terhindar dari sifat putus asa terhadap rahmat Allah. Allah akan menggantikan generasi yang ingkar dengan orang-orang yang tidak takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 54 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
Dalam ayat ini Allah menerangkan pula bahwa segala kebajikan terletak di tangan(kekuasaan)-Nya baik kenabian, kekuasaan ataupun kekayaan. Ini menunjukkan bahwa Allah SWT sendirilah yang memberikan kebaikan itu menurut kemauan-Nya. Tidak ada seorangpun yang memiliki kebajikan itu selain Allah SWT. Meskipun dalam ayat ini hanya disebutkan kebajikan saja sebenarnya segala yang buruk dan jahat juga ada di bawah kekuasaan Allah SWT. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat menghalangi-Nya apabila Dia memberikan kemuliaan maupun kehinaan kepada semua orang yang dikehendaki Nya. Sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam firman Nya:
وَنُرِيْدُ اَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) (QS. Al-Qashash: 5)

Tidak ada siapa pun yang dapat beranggapan bahwa mereka akan tetap berkuasa walaupun telah memerintah negara setengah abad, walaupun mereka menggunakan berbagai cara untuk menghalalkan tindakkannya. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa setiap pemerintah zalim yang merampas hak rakyat, mengutamakan kroni atau ahli keluarga daripada rakyat jelata, hidup bermewah-mewah, pilih kasih dan mealkukan korupsi, maka golongan ini tidak mustahil akan digantikan dengan golongan yang lebih baik, tulus dan amanah.
Allah SWT Maha Berkuasa dan Maha Bijaksana dan Dia mampu merubah sistem kehidupan di muka bumi. Oleh itu kita perlu menyadari bahwa hidup kita di dunia ini hanya sementara dan kehidupan  yang sebenarnya adalah di kampung akhirat, sehingga kita waspada, tidak tertipu dengan bujuk rayu dunia dan berhati-hati ketika memilih pemimpin karena kita semua akan diminta pertanggungjawaban atas pilihan yang kita tetapkan di dunia ini.


*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin

No comments:

Contoh Tulisan Berjalan

Post a Comment