Selamat Datang di Website Al-Muhajirin Tour dan Travel (PT.DMI) Purwakarta #l# Info Umrah : Bulan Oktober - November - Desember 2023 Hub : Jajang (087778723514)

Monday, April 14, 2014

BUKTI-BUKTI KEKUASAAN DAN KASIH SAYANG ALLAH



Q.S. Ali Imran : 27
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِي الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira.


تُوْلِجُ
Engkau masukkan
الَّيْلَ
malam
فِي
ke dalam
النَّهَارِ  
Siang
وَ
Dan
تُوْلِجُ
Engkau masukkan
النَّهَارَ
Siang
فِي
ke dalam
الَّيْلِ
Malam
وَ
Dan
تُخْرِجُ Engkau keluarkan
الْحَيَّ  
Yang hidup
مِنَ
Dari
الْمَيِّتِ
Yang mati
وَ
Dan
تُخْرِجُ Engkau keluarkan
الْمَيِّتَ
Yang mati
مِنَ
Dari
الْحَيِّ 
Yang hidup
وَ
Dan
تَرْزُقُ
Engkau beri rezeki
مَنْ
Orang
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
بِغَيْرِ
Dengan tidak ada
حِسَابٍ
perhitungan




A
yat ini merupakan lanjutan doa dari ayat sebelumnya yang menyatakan kekuasaan dan keagungan Allah. Di antara bukti kekuasaan, keagungan, kebijaksanaan, dan kasih sayang-Nya adalah pergantian antara malam dan siang.
Dalam Tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa Ibnu Abbas, Mujahid, Hasan, Qatadah, dan Suddiy berpendapat bahwa Allah memasukkan yang berkurang dari malam dan siang dalam satu sama lain sehingga siang mencapai waktu terpanjangnya yaitu 15 jam dan malam mencapai waktu terpendeknya yaitu 9 jam. Lama-kelamaan panjang masa keduanya menjadi sama kembali. Ini merupakan bukti terbesar atas kekuasaan, keagungan, kebijaksanaan, dan kasih sayang-Nya.
Setiap hari kita mengalami perputaran siang dan malam dan seringkali kita hanya menjalani aktivitas kita tanpa pernah ingin tahu bagaimana prosesnya. Perputaran Bumi pada porosnyalah yang menyebabkan terjadinya siang dan malam. Bumi kita adalah salah satu planet yang mengitari Matahari dan ia juga mengitari dirinya sendiri. Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk menyelesaikan perputaran pada porosnya, dan inilah yang dikenal sebagai 1 hari bagi manusia. Selama 24 jam waktu Bumi berputar mengitari porosnya, ada kalanya sebagian wajah Bumi berhadapan dengan Matahari dan inilah area yang mengalami siang.  Dan kemudian seiring dengan perputaran Bumi, wajah yang tadinya berhadapan dengan Matahari kemudian berputar dan membelakangi Matahari sehingga sisi wajah Bumi yang tidak disinari Matahari ini mengalami malam hari.
Pergantian antara siang dan malam ini merupakan keseimbangan yang hanya lahir dari kemahakuasaan Allah dan kasih sayang-Nya. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًا وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian , dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (QS. An-Naba: 10-11)
Dalam Tafsir al-Maraghi disebutkan bahwa malam itu gelap menutupi jagat seperti pakaian (libas) menutupi tubuh manusia. Fungsi malam dan siang ini merupakan anugerah yang saling melengkapi. Bila malam terus berlangsung, maka dalam waktu 100 jam saja seluruh air di muka bumi akan membeku. Sedangkan bila siang yang terus berlangsung, maka seluruh air di muka bumi akan mendidih dan menguap dalam waktu 100 jam saja, dan dalam waktu 100 jam berikutnya darah dalam tubuh kita pun akan mendidih serta tidak akan ada kehidupan lagi di muka bumi ini. Subhanallah. Tidak ada yang berkuasa mengatur pergantian siang dan malam ini kecuali Allah Ta’ala. Allah berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ الَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مِنْ إِلهٍ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيْكُمْ بِضِيَآءٍ أَفَلَا تَسْمَعُوْنَ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?" (QS. Al-Qashash: 71)

Selain mengatur waktu pergantian malam dan siang, Allah juga yang berkuasa mengatur kehidupan. Dia menghadirkan kehidupan dari kematian seperti pohon dari benih, ayam dari telur, manusia dari air mani dan Dia pun menghadirkan kematian dari yang hidup. Bukti-bukti bagi orang-orang yang berakal ini pada hakikatnya merupakan cobaan bagi manusia dalam menjalankan perintah-perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah berfirman:
الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al-Mulk: 2)

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kematian dan kehidupan. Hasan berpendapat bahwa yang dimaksud kehidupan adalah keimanan dan arti kematian adalah kekafiran. Yang hidup dan mati dalam hal ini adalah hati mereka.
Allah juga memberi orang yang Dia kehendaki harta benda yang tidak terhitung banyaknya dan sulit untuk ditakar yang tidak diberikan pada orang lain. Hal ini Engkau lakukan berdasarkan kebijaksanaan, kehendak, dan kemauan-Mu semata.
Sayyid Qutb menjelaskan bahwa gerakan memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup menunjukkan adanya ‘tangan’ Allah yang tak terbantahkan. Demikian pula masalah kehidupan dan kematian. Setiap detik yang melewati suatu makhluk hidup, maka pada saat itu merambatlah kematian kepada sisi kehidupan. Kematian memakan kehidupan, tetapi pada waktu yang sama terbentuk kehidupan baru.
Ini merupakan sentuhan yang mengembalikan hati manusia kepada hakikat terbesar. Yaitu, hakikat uluhiyah wahidah (Ketuhanan yang Maha Esa), qawamah wahidah (pengurusan yang satu), fa’iliyah wahidah (aktivitas yang satu), tadbir wahidah (pengaturan yang satu), malikiyah wahidah (kekuasaan yang satu), dan atha’ wahidah (kekuasaan yang satu).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Al-Hafiz ibnu Asakir meriwayatkan di dalam riwayat hidup Ishaq ibnu Ahmad bagian dari kitab tarikh tentang Khalifah Al-Ma-mun, bahwa ia pernah melihat pada salah satu istana di negeri Rumawi suatu tulisan memakai bahasa Himyariyah. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, ternyata artinya seperti berikut: “Dengan nama Allah, tidak sekali-kali malam dan siang silih berganti, dan tidak pula bintang-bintang beredar pada garis edarnya, melainkan karena berpindahnya nikmat (karunia) dari suatu kerajaan yang telah sirna kekuasaannya ke kerajaan yang lain. Sedangkan kerajaan Tuhan yang memiliki Arasy tetap abadi, tidak akan hilang dan tidak ada yang menyekutuinya.”
Dalam Tafsir al-Baghawi disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Surat Al Fatiha, Ayat Kursi, dua ayat dari surat Ali Imran, yaitu ayat 18-19,26-27 Mereka saling terkait, di antara ayat-ayat tersebut dengan Allah swt. Tidak ada lagi penghalang. Dengan kata lain, ketika Allah swt. Menghendaki mereka untuk turun, mereka bergantung kepada Arsy dan berkata, “Engkau menurunkan kami ke bumi-Mu dan kepada orang yang durhaka kepada-Mu.” Maka Allah swt. Berfirman, “Dengan diri-Ku sendiri aku bersumpah bahwa tidaklah seseorang dari hamba-Ku membaca kalian setiap usai shalat wajib, kecuali Aku akan menjadikan surga sebagai tempat berdiamnya, sesuai dengan apa yang ada darinya. Dan Aku pasti menempatkannya di hadirat yang suci dan Aku akan melihat kepadanya dengan mata-Ku yang tersembunyi setiap hari 70 kali. Aku pasti memenuhinya setiap hari 70 kebutuhan, yang paling rendah adalah ampunan. Aku akan melindunginya dari semua musuh dan orang yang dengki. Dan Aku pasti membantunya dari mereka.

 Oleh : DR. KH Abun Bunyamin, MA (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin)

No comments:

Contoh Tulisan Berjalan

Post a Comment