Q.S. Ali Imran : 27
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِي الَّيْلِ وَتُخْرِجُ
الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ
بِغَيْرِ حِسَابٍ
Engkau masukkan malam
kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang
hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan
Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira.
|
تُوْلِجُ
Engkau masukkan
|
الَّيْلَ
malam
|
فِي
ke dalam
|
النَّهَارِ
Siang
|
|
وَ
Dan
|
تُوْلِجُ
Engkau masukkan
|
النَّهَارَ
Siang
|
فِي
ke dalam
|
|
الَّيْلِ
Malam
|
وَ
Dan
|
تُخْرِجُ Engkau
keluarkan
|
الْحَيَّ
Yang hidup
|
|
مِنَ
Dari
|
الْمَيِّتِ
Yang mati
|
وَ
Dan
|
تُخْرِجُ Engkau keluarkan
|
|
الْمَيِّتَ
Yang mati
|
مِنَ
Dari
|
الْحَيِّ
Yang hidup
|
وَ
Dan
|
|
تَرْزُقُ
Engkau beri
rezeki
|
مَنْ
Orang
|
تَشَآءُ
Engkau kehendaki
|
بِغَيْرِ
Dengan tidak ada
|
|
حِسَابٍ
perhitungan
|
|
|
|
|
A
|
yat
ini merupakan lanjutan doa dari ayat sebelumnya yang menyatakan kekuasaan dan
keagungan Allah. Di antara bukti kekuasaan, keagungan, kebijaksanaan, dan kasih
sayang-Nya adalah pergantian antara malam dan siang.
Dalam Tafsir
al-Qurthubi disebutkan bahwa Ibnu Abbas, Mujahid, Hasan, Qatadah, dan
Suddiy berpendapat bahwa Allah memasukkan yang berkurang dari malam dan siang
dalam satu sama lain sehingga siang mencapai waktu terpanjangnya yaitu 15 jam
dan malam mencapai waktu terpendeknya yaitu 9 jam. Lama-kelamaan
panjang masa keduanya menjadi sama kembali. Ini merupakan bukti terbesar atas
kekuasaan, keagungan, kebijaksanaan, dan kasih sayang-Nya.
Setiap hari kita mengalami perputaran siang dan
malam dan seringkali kita hanya menjalani aktivitas kita tanpa pernah ingin
tahu bagaimana prosesnya. Perputaran Bumi pada porosnyalah yang menyebabkan
terjadinya siang dan malam. Bumi kita adalah salah satu planet yang mengitari
Matahari dan ia juga mengitari dirinya sendiri. Bumi membutuhkan waktu 24 jam
untuk menyelesaikan perputaran pada porosnya, dan inilah yang dikenal sebagai 1
hari bagi manusia. Selama 24 jam waktu Bumi berputar mengitari porosnya, ada
kalanya sebagian wajah Bumi berhadapan dengan Matahari dan inilah area yang
mengalami siang. Dan kemudian seiring dengan perputaran Bumi, wajah yang
tadinya berhadapan dengan Matahari kemudian berputar dan membelakangi Matahari
sehingga sisi wajah Bumi yang tidak disinari Matahari ini mengalami malam hari.
Pergantian antara siang dan malam ini merupakan
keseimbangan yang hanya lahir dari kemahakuasaan Allah dan kasih sayang-Nya. Allah
berfirman:
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًا وَجَعَلْنَا النَّهَارَ
مَعَاشًا
Dan
Kami jadikan malam sebagai pakaian , dan Kami jadikan siang untuk mencari
penghidupan, (QS.
An-Naba: 10-11)
Dalam Tafsir al-Maraghi disebutkan bahwa malam itu gelap menutupi jagat seperti pakaian (libas) menutupi tubuh manusia. Fungsi malam dan siang ini merupakan anugerah yang
saling melengkapi. Bila malam terus berlangsung, maka dalam waktu 100 jam saja
seluruh air di muka bumi akan membeku. Sedangkan bila siang yang terus
berlangsung, maka seluruh air di muka bumi akan mendidih dan menguap dalam
waktu 100 jam saja, dan dalam waktu 100 jam berikutnya darah dalam tubuh kita
pun akan mendidih serta tidak akan ada kehidupan lagi di muka bumi ini. Subhanallah.
Tidak ada yang berkuasa mengatur pergantian siang dan malam ini kecuali Allah
Ta’ala. Allah berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ
جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ الَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مِنْ إِلهٍ
غَيْرُ اللهِ يَأْتِيْكُمْ بِضِيَآءٍ أَفَلَا تَسْمَعُوْنَ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah
menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan
selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu
tidak mendengar?" (QS. Al-Qashash: 71)
Selain mengatur waktu pergantian malam dan siang, Allah
juga yang berkuasa mengatur kehidupan. Dia menghadirkan kehidupan dari kematian
seperti pohon dari benih, ayam dari telur, manusia dari air mani dan Dia pun
menghadirkan kematian dari yang hidup. Bukti-bukti bagi orang-orang yang
berakal ini pada hakikatnya merupakan cobaan bagi manusia dalam menjalankan
perintah-perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah berfirman:
الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ
اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al-Mulk: 2)
Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kematian dan kehidupan. Hasan
berpendapat bahwa yang dimaksud kehidupan adalah keimanan dan arti kematian
adalah kekafiran. Yang hidup dan mati dalam hal ini adalah hati mereka.
Allah juga memberi orang yang Dia kehendaki harta benda yang
tidak terhitung banyaknya dan sulit untuk ditakar yang tidak diberikan pada
orang lain. Hal ini Engkau lakukan berdasarkan kebijaksanaan, kehendak, dan
kemauan-Mu semata.
Sayyid Qutb
menjelaskan bahwa gerakan memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang
ke dalam malam, mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang
mati dari yang hidup menunjukkan adanya ‘tangan’ Allah yang tak terbantahkan.
Demikian pula masalah kehidupan dan kematian. Setiap detik yang melewati suatu
makhluk hidup, maka pada saat itu merambatlah kematian kepada sisi kehidupan.
Kematian memakan kehidupan, tetapi pada waktu yang sama terbentuk kehidupan
baru.
Ini merupakan sentuhan
yang mengembalikan hati manusia kepada hakikat terbesar. Yaitu, hakikat uluhiyah
wahidah (Ketuhanan yang Maha Esa), qawamah wahidah (pengurusan yang
satu), fa’iliyah wahidah (aktivitas yang satu), tadbir wahidah (pengaturan
yang satu), malikiyah wahidah (kekuasaan yang satu), dan atha’
wahidah (kekuasaan yang satu).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Al-Hafiz
ibnu Asakir meriwayatkan di dalam riwayat hidup Ishaq ibnu Ahmad bagian dari
kitab tarikh tentang Khalifah Al-Ma-mun, bahwa ia pernah melihat pada salah
satu istana di negeri Rumawi suatu tulisan memakai bahasa Himyariyah. Ketika
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, ternyata artinya seperti berikut: “Dengan
nama Allah, tidak sekali-kali malam dan siang silih berganti, dan tidak pula
bintang-bintang beredar pada garis edarnya, melainkan karena berpindahnya
nikmat (karunia) dari suatu kerajaan yang telah sirna kekuasaannya ke kerajaan
yang lain. Sedangkan kerajaan Tuhan yang memiliki Arasy tetap abadi, tidak akan hilang dan tidak ada yang
menyekutuinya.”
Dalam Tafsir al-Baghawi
disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Surat
Al Fatiha, Ayat Kursi, dua ayat dari surat Ali Imran, yaitu ayat 18-19,26-27
Mereka saling terkait, di antara ayat-ayat tersebut dengan Allah swt. Tidak
ada lagi penghalang. Dengan kata lain, ketika Allah swt. Menghendaki mereka
untuk turun, mereka bergantung kepada Arsy dan berkata, “Engkau menurunkan kami
ke bumi-Mu dan kepada orang yang durhaka kepada-Mu.” Maka
Allah swt. Berfirman, “Dengan diri-Ku sendiri aku bersumpah bahwa tidaklah
seseorang dari hamba-Ku membaca kalian setiap usai shalat wajib, kecuali Aku
akan menjadikan surga sebagai tempat berdiamnya, sesuai dengan apa yang ada
darinya. Dan Aku pasti menempatkannya di hadirat yang suci dan Aku akan melihat
kepadanya dengan mata-Ku yang tersembunyi setiap hari 70 kali. Aku pasti
memenuhinya setiap hari 70 kebutuhan, yang paling rendah adalah ampunan. Aku
akan melindunginya dari semua musuh dan orang yang dengki. Dan Aku pasti
membantunya dari mereka.

No comments:
Post a Comment