Selamat Datang di Website Al-Muhajirin Tour dan Travel (PT.DMI) Purwakarta #l# Info Umrah : Bulan Oktober - November - Desember 2023 Hub : Jajang (087778723514)

Tuesday, April 25, 2017

IKHTIAR DAN TAWAKAL: CIRI KHAS ORANG BERIMAN Oleh : DR. KH. Abun Bunyamin, MA*)


Q.S. Ali Imran : 122

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, Padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

A
yat ke 122 dari surat Ali Imran ini masih merupakan untaian penjelasan berkaitan dengan ayat sebelumnya yang menerangkan tentang perang Uhud. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dua golongan dalam ayat ini adalah Bani Salamah dari suku Khazraj dan Bani Haritsah dari suku Aus.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Setelah bermusyawarah dengan para shahabat, Rasulullah SAW
memutuskan untuk menyambut serangan kaum kafir Makkah dan sekitarnya di luar Madinah. Rasulullah SAW meninggalkan Madinah pada hari Jum’at disertai dengan seribu pasukan. Di antara mereka ada 100 orang yang mengenakan baju besi. Rasulullah SAW sendiri pada saat itu mengenakan dua lapis baju besi.
Ketika sampai di as-Syauth, tokoh munafik Abdullah bin Ubay ibnu Salul diikuti oleh tiga ratus munafik lainnya membelot, kembali dan tidak mau ikut berperang. Mereka beralasan bahwa peperangan tidak akan terjadi. Pembelotan ini juga sebagai bentuk protes terhadap Rasulullah SAW yang memutuskan untuk menyambut kedatangan musuh di luar Madinah. Dalam merespon tindakan buruk yang dilakukan orang-orang munafik ini, para shahabat terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok memandang agar kaum muslimin menyerang dan memberi pelajaran kepada orang-orang munafik ini sementara satu kelompok lagi memandang tidak perlu menyerang mereka.
Ketika itu, Bani salamah dari suku Khazraj dan Bani Haritsah dari suku Aus hampir saja ikut mundur dan bergabung bersama orang-orang munafik, namun Allah SWT memberikan mereka keteguhan hati untuk tetap bertahan dengan kaum Muslimin.
Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Muniir menyebutkan bahwa jumlah Bani Salamah dari Suku Aus dan Bani Haritsah dari suku Khazraj mencapai sepertiga dari keseluruhan jumlah pasukan kaum muslimin saat itu. Saat mereka gentar menghadapi kenyataan kaum munafik melakukan pembelotan, serta merasa takut kalah karena berkurangnya jumlah pasukan secara signifikan Allah menjaga dan menguatkan iman mereka sehingga kedua golongan itu pun terhindar dari kehinaan dan keinginan untuk melarikan diri dari medan perang.
Az-Zuhaili menegaskan bahwa ayat ini diakhiri dengan perintah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah SWT. Tawakkal artinya percaya kepada Allah, bersandar pada pertolongannya tidak mengandalkan kekuatan diri kita sendiri dan para pendukung kita. Pada dasarnya manusia diperintahkan untuk melakukan persiapan-persiapan dan tidak mengaitkan hasil dengan persiapan-persiapan tersebut. Namun kita harus tetap yakin bahwa Allah SWT maha penolong, bahkan atas izin-Nya kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar, sebagaimana Allah SWT menolong kaum mukminin dalam perang Badar.
Dari Q.S. Ali Imran ayat 122 ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran bahwa dalam setiap peperangan senantiasa ada golongan-golongan munafik yang merusak kekuatan dari dalam. Golongan ini justru harus lebih diwaspadai daripada musuh yang ada di hadapan kita.
Dalam perang Uhud, Abdullah bin Ubay sengaja meninggalkan peperangan di tengah jalan ketika melihat pasukan musuh, hal itu bertujuan untuk melucutkan mental semangat dan menimbulkan ketakutan di tengah pasukan kaum muslimin yang tersisa, dan sebaliknya justru akan semakin meningkatkan mental para musuh-musuh Islam.
Untuk menyikapi segala gangguan dalam peperangan menegakkan kalimat Allah seperti gangguan dari kaum-kaum munafik, Allah memberikan solusi kepada kita yaitu sikap tawakkal.
Dalam kitab Jami’ al-Ulum wal-Hikam, Imam Ibnu Rajab RA berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”.
Banyak kesalahpahaman terjadi dengan menjadikan tawakal sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan tidak melakukan usaha apa pun. Ibnu Rajab menambahkan bahwa sesungguhnya merealisasikan tawakal tidaklah bertentangan dengan usaha untuk (melakukan) sebab yang dengannya Allah SWT menakdirkan ketentuan-ketentuan (di alam semesta). Dan (ini merupakan) ketetapan-Nya yang berlaku pada semua makhluk-Nya. Karena Allah Azza wa Jalla memerintahkan (kepada manusia) untuk melakukan sebab (usaha) sebagaimana Dia memerintahkan untuk bertawakal (kepada-Nya). Maka usaha untuk melakukan sebab (yang halal) dengan anggota badan adalah (bentuk) ketaatan kepada-Nya, sebagaimana bertawakal kepada-Nya dengan hati adalah (perwujudan) iman kepada-Nya. Mengenai usaha dan tawakkal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda :
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى للهَِّ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Seandainya kalian bertawakal pada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan melimpahkan rezki kepada kalian, sebagaimana Dia melimpahkan rezki kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Al-Hakim)
Meskipun demikian, hendaknya setiap hamba tidak tergantung dan bersandar hatinya kepada usaha atau sebab tersebut, karena yang dapat memberikan manfaat, termasuk mendatangkan rezki, dan menolak bahaya hanyalah Allah SWT semata. Karena sikap tersebut akan menjatuhkan ke dalam jurang kesyirikan.
Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa’id mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul SAW serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan).
Sikap tawakkal ini akhirnya melatih kita untuk memaksimalkan persiapan dan usaha untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan tetap menggantungkan hasil kepada Allah serta meyakini bahwa apapun hasil akhir yang Allah putuskan sebagai yang hal terbaik. Allah a’lam.

Allah Swt berfirman (QS. Ath-Tholaq: 2-3) :

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya (mencukupkan keperluannya)." (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Semoga Allah SWT menyempurnakan keimanan kita dengan senantiasa memaksimalkan berusaha dan tawakkal. Aamiin. 
*)  Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin

No comments:

Contoh Tulisan Berjalan

Post a Comment