Selamat Datang di Website Al-Muhajirin Tour dan Travel (PT.DMI) Purwakarta #l# Info Umrah : Bulan Oktober - November - Desember 2023 Hub : Jajang (087778723514)

Tuesday, November 8, 2016

BAHAYANYA PERILAKU ZALIM Oleh: DR. KH. Abun Bunyamin, MA*)

Q.S. Ali Imran : 108
Itulah ayat-ayat Allah yang kami bacakan kepada kamu dengan benar, dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh alam.

        Ayat 108 dari Q.S. Ali Imran ini menjadi penegasan akhir tentang rentetan kecaman terhadap sikap ahli kitab dan konsekuensi yang akan didapat oleh semua manusia dari tingkah lakunya di dunia.
Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir menjelaskan yang dimaksud kata “ayat” dalam ayat ini adalah tanda-tanda, keterangan, bukti-bukti-bukti nyata yang dibacakan Allah sebagai penguat atas kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam tafsirnya, Imam al-Maraghi menambahkan bahwa sesuai dengan konteksnya, ayat ini mengimplikasikan perintah agar kita berpegang teguh pada perintah yang dijanjikan kemenangan dan kesuksesan serta meninggalkan larangan yang dijanjikan dengan siksa yang pedih, sehingga kita menjadi umat yang bersatu dalam visi dan beragama sehingga kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sementara Imam al-Qurthubi dalam al-Jami li Ahkami al-Qur’an menjelaskan bahwa maksud ‘ayat’ dalam ayat ini adalah al-Qur’an yang dibacakan oleh utusan Allah yaitu Jibril dengan benar.
Ayat ini pun menjelaskan bahwa Allah tidak menghendaki kezaliman atas semua makhluknya, karena sesungguhnya Allah adalah hakim yang Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Kezaliman itu adalah kebalikan dari kebijaksanaan dan kesempurnaan dalam aturan dan syariat. Allah tidak perlu menzalimi satupun makhluknya, sedangkan semua perintah dan larangan-Nya hanyalah dimaksudkan agar manusia mengambil jalan yang lurus dan orang-orang yang tidak mengindahkan perintah dan larangan-Nya itulah yang sesungguhnya melakukan kezaliman atas diri mereka sendiri. Orang-orang zalim ini menjadi sebab turunnya adzab bagi dirinya. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ
Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Hud: 117)

Imam al-Qurthubi menambahkan bahwa dalam konteks ayat ini menghitamkan wajah golongan yang disebutkan pada ayat sebelumnya serta menimpakan adzab yang pedih atas mereka bahkan memutihkan wajah dan memberikan nikmat abadi merupakan bukti keadilan Allah karena sesuai dengan janji dan ancaman yang sudah dibacakan pada semua makhluk-Nya melalui Rasulullah S.A.W. dan al-Qur’an.
Hakikat Zalim
Secara bahasa, zalim berasal dari bahasa Arab yang berarti gelap. Zalim ini berarti meletakkan sesuatu/perkara bukan pada tempatnya. Kebalikan dari sifat zalim ini adalah adil.
Kezaliman adalah kerusakan di dalam fitrah manusia, karena Allah SWT menciptakan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (Q.S. Al-Ahzab: 72)
Untuk menyelamatkan manusia, Allah memberi hidayah dengan menurunkan al-Qur’an dan mengutus Rasul sehingga manusia mempunyai ilmu untuk menghapuskan kezaliman dan menegakkan keadilan.
Al-Qur’an adalah kitab samawi terakhir yang berisi tuntunan hidup yang benar secara Islam. Al-Qur’an ini merupakan media tadabbur yang sarat dengan ibrah dan pelajaran, lahirnya indah, batinnya penuh keajaiban. Meskipun demikian, manfaat besar yang ditawarkan al-Qur’an hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang adil dan tidak zalim. Allah SWT berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبَسُوْآ اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُوْلٰئِكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al An'am: 82)
Zalim yang dimaksud adalah kejahatan, pergelutan dengan kebatilan, penyimpangan dari kebenaran, perampas an hak orang lain serta menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kezaliman bisa dibagi menjadi tiga bentuk, zalim kepada Allah, kepada orang lain dan zalim kepada diri sendiri.
Zalim kepada Allah berbentuk pembangkangan, kedurhakaan dan ketidak-taatan atas perintah-perintah-Nya dan bentuk dari kezaliman terbesar adalah kesyirikan yaitu menduakan Allah SWT dalam penyembahan dan peribadatan. Dan zalim kepada orang lain adalah merampas hak, melecehkan, menghina dan menjatuhkan kehormatan orang lain.
Seseorang yang memilih kehidupan yang bergelut dengan dosa, pembangkangan dan kedurhakaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta menebarkan kerusakan dalam hubungan sosialnya maka ia hakekatnya menzalimi diri sendiri dengan membahayakan diri dengan konsekuensi adzab abadi di akhirat kelak.
Allah SWT mustahil bersifat zalim. Allah sebagai tuhan yang hak yang Maha Sempurna tidak pantas dilekati oleh sifat tercela seperti itu. Keadilan Allah SWT sangat mudah ditemui dan dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, perilaku zalim ini merupakan salah satu larangan Allah SWT bagi semua hamba-Nya. Meskipun demikian, bahkan sebagai wujud keadilan-Nya, Allah SWT menetapkan 4 tahap yang akan dilalui oleh orang-orang zalim tersebut.
Pertama, penangguhan dan penundaan. Fase ini bertujuan dengan harapan orang-orang zalim mendapat hidayah dan kembali ke jalan yang benar. Kedua, Istidraj. Istidraj adalah jebakan berupa limpahan rezeki dan kemudahan sehingga orang-orang zalim tersebut semakin sibuk dan akhirnya terlena untuk kembali kepada Allah SWT. Ketiga, pemolesan hingga kelihatan cantik. Dalam fase ini, setan menghiasi amal-amal buruk orang zalim sehingga hati mereka mati dan tidak akan hidup lagi untuk menyesali tindakan yang sudah dilakukan. Keempat,  turunnya azab. Pada saat ini orang zalim tidak diberi ampun lagi. Kesempatan untuk perbaikan sudah ditutup. Azab Allah yang pedih segera turun terhadap si zalim baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga Allah mengampuni kezaliman diri kita sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Aamiin.

No comments:

Contoh Tulisan Berjalan

Post a Comment