Itulah ayat-ayat Allah yang kami bacakan kepada kamu dengan benar, dan
Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh alam.
Ayat 108 dari Q.S. Ali Imran ini menjadi penegasan akhir tentang rentetan
kecaman terhadap sikap ahli kitab dan konsekuensi yang akan didapat oleh semua
manusia dari tingkah lakunya di dunia.
Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir
menjelaskan yang dimaksud kata “ayat” dalam ayat ini adalah tanda-tanda,
keterangan, bukti-bukti-bukti nyata yang dibacakan Allah sebagai penguat atas
kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam tafsirnya, Imam al-Maraghi menambahkan bahwa sesuai
dengan konteksnya, ayat ini mengimplikasikan perintah agar kita berpegang teguh
pada perintah yang dijanjikan kemenangan dan kesuksesan serta meninggalkan
larangan yang dijanjikan dengan siksa yang pedih, sehingga kita menjadi umat
yang bersatu dalam visi dan beragama sehingga kita mendapatkan kebahagiaan
dunia dan akhirat.
Sementara Imam al-Qurthubi dalam al-Jami li Ahkami
al-Qur’an menjelaskan bahwa maksud ‘ayat’ dalam ayat ini adalah al-Qur’an
yang dibacakan oleh utusan Allah yaitu Jibril dengan benar.
Ayat ini pun menjelaskan bahwa Allah tidak menghendaki
kezaliman atas semua makhluknya, karena sesungguhnya Allah adalah hakim yang
Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Kezaliman itu
adalah kebalikan dari kebijaksanaan dan kesempurnaan dalam aturan dan syariat.
Allah tidak perlu menzalimi satupun makhluknya, sedangkan semua perintah dan
larangan-Nya hanyalah dimaksudkan agar manusia mengambil jalan yang lurus dan
orang-orang yang tidak mengindahkan perintah dan larangan-Nya itulah yang
sesungguhnya melakukan kezaliman atas diri mereka sendiri. Orang-orang zalim
ini menjadi sebab turunnya adzab bagi dirinya. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى
بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ
Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara
zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Hud: 117)
Imam al-Qurthubi menambahkan bahwa dalam konteks ayat ini
menghitamkan wajah golongan yang disebutkan pada ayat sebelumnya serta
menimpakan adzab yang pedih atas mereka bahkan memutihkan wajah dan memberikan
nikmat abadi merupakan bukti keadilan Allah karena sesuai dengan janji dan
ancaman yang sudah dibacakan pada semua makhluk-Nya melalui Rasulullah S.A.W.
dan al-Qur’an.
Hakikat Zalim
Secara bahasa, zalim berasal dari bahasa Arab yang
berarti gelap. Zalim ini berarti meletakkan sesuatu/perkara bukan pada
tempatnya. Kebalikan dari sifat zalim ini adalah adil.
Kezaliman adalah kerusakan di dalam fitrah manusia,
karena Allah SWT menciptakan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada
kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami
telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya
enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya
(berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat
zalim dan sangat bodoh.” (Q.S. Al-Ahzab: 72)
Untuk menyelamatkan manusia, Allah memberi hidayah dengan
menurunkan al-Qur’an dan mengutus Rasul sehingga manusia mempunyai ilmu untuk
menghapuskan kezaliman dan menegakkan keadilan.
Al-Qur’an adalah kitab samawi terakhir yang berisi
tuntunan hidup yang benar secara Islam. Al-Qur’an ini merupakan media tadabbur
yang sarat dengan ibrah dan pelajaran, lahirnya indah, batinnya penuh
keajaiban. Meskipun demikian, manfaat besar yang ditawarkan al-Qur’an hanya
bisa dinikmati oleh orang-orang yang adil dan tidak zalim. Allah SWT berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبَسُوْآ
اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُوْلٰئِكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
"Orang-orang yang
beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk." (QS. Al An'am: 82)
Zalim yang dimaksud adalah kejahatan, pergelutan
dengan kebatilan, penyimpangan dari kebenaran, perampas an hak orang lain serta
menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kezaliman bisa dibagi menjadi tiga
bentuk, zalim kepada Allah, kepada orang lain dan zalim kepada diri sendiri.
Zalim kepada Allah berbentuk pembangkangan, kedurhakaan dan
ketidak-taatan atas perintah-perintah-Nya dan bentuk dari kezaliman terbesar
adalah kesyirikan yaitu menduakan Allah SWT dalam penyembahan dan peribadatan. Dan
zalim kepada orang lain adalah merampas hak, melecehkan, menghina dan
menjatuhkan kehormatan orang lain.
Seseorang yang memilih kehidupan yang bergelut dengan dosa, pembangkangan
dan kedurhakaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta menebarkan kerusakan dalam
hubungan sosialnya maka ia hakekatnya menzalimi diri sendiri dengan
membahayakan diri dengan konsekuensi adzab abadi di akhirat kelak.
Allah SWT mustahil bersifat zalim. Allah sebagai tuhan yang hak yang Maha
Sempurna tidak pantas dilekati oleh sifat tercela seperti itu. Keadilan Allah
SWT sangat mudah ditemui dan dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, perilaku zalim ini merupakan salah satu larangan Allah SWT
bagi semua hamba-Nya. Meskipun demikian, bahkan sebagai wujud keadilan-Nya,
Allah SWT menetapkan 4 tahap yang akan dilalui oleh orang-orang zalim tersebut.
Pertama, penangguhan dan penundaan. Fase ini bertujuan dengan harapan orang-orang
zalim mendapat hidayah dan kembali ke jalan yang benar. Kedua, Istidraj.
Istidraj adalah jebakan berupa limpahan rezeki dan kemudahan sehingga
orang-orang zalim tersebut semakin sibuk dan akhirnya terlena untuk kembali
kepada Allah SWT. Ketiga, pemolesan hingga kelihatan cantik.
Dalam fase ini, setan menghiasi amal-amal buruk orang zalim sehingga hati
mereka mati dan tidak akan hidup lagi untuk menyesali tindakan yang sudah
dilakukan. Keempat,
turunnya azab. Pada saat ini orang zalim tidak diberi ampun lagi.
Kesempatan untuk perbaikan sudah ditutup. Azab Allah yang pedih segera turun
terhadap si zalim baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga Allah mengampuni kezaliman diri kita sehingga kita tidak termasuk
orang-orang yang merugi. Aamiin.
No comments:
Post a Comment