Oleh : DR.
KH. ABUN BUNYAMIN, MA *)
Yang diidamkan, bahkan yang kerap
dipanjatkan dalam doa bagi yang akan berhaji atau umroh adalah kemabruran.
Menjadi haji yang mabrur adalah harapan bagi mereka yang menjadi tamu Allah di
Tanah Suci. Lantas, apakah mabrur itu?
Secara sederhana, mabrur
adalah apa yang membekas pada orang yang pulang haji atau umroh. Tentu saja
yang membekas ini adalah hal-hal yang positif,
baik dalam perbuatan maupun ucapan dan sikap. Artinya, perbuatan, ucapan
dan sikap orang yang pulang haji atau umroh harus lebih baik dibandingkan
sebelum berangkat ke Tanah Suci Mekah.
Kemabruran haji maupun
umroh memang mudah dijaga saat pelaksanaannya. Tetapi terasa berat dijaga
setelah haji atau umroh dilaksanakan. Padahal, pengaruh haji maupun umroh
idealnya membekas setelah ritual haji dan umroh dilaksanakan, bahkan sampai
akhir hayat. Di sini kita akan diingatkan makna khusnul khotimah. Bahwa khusnul
khotimah bukanlah baik di ujung sakaratul maut saja, namun hakikat sebenarnya
adalah baik selamanya. Tentu tidaklah ada manusia yang baik selamanya, ada saja
dosa yang dilakukan. Tetapi jika sering bertaubat atas dosa, ia akan menjadi
manusia yang bagai tidak pernah berdosa. Jikapun sering berbuat dosa, asal ajal
tak menjemput ketika sedang atau sesudah bermaksiat dan tidak sempat bertaubat.
Berikut ini merupakan tips menjaga kemabruran haji maupun umroh :
Pertama, sering-seringlah bertemu ulama.
Berdiskusi dan bermudzakarahkah dengan mereka. Dengarkan dengan baik
berbagaiarahan, wejangan dan tausiyahnya dimajlis-majlis.
Kedua, biasakanlah shalat di awal waktu
dan berjamaah. Lengkapilah dengan solat rawatib (qabliyah dan ba'diyah ),
tahajud, witir, dhuha, tasbih, awabin, hajat, istikharah dan sebagainya.
Ketiga, perbanyaklah dzikir,doa dan wirid.
Terutama istighfar setelah shalat fardu dan pada waktu shalat malam.
Keempat, biasakanlah membaca Al Quran secara
tartib mushhafi yang teratur, dan memiliki target khatam dalam skala harian,
mingguan, bahkan bulanan.
Kelima, siapkanlah waktu setiap hari untuk
menjaga hafalan Al Quran dan menambahnya setiap saat agar hati tidak gersang
akibat kosong dari Al Quran.
Keenam, jangan sesekali meninggalkan
kebiasaan puasa sunnah setiap tengah bulan tiga hari. Bila memungkinkan,
berpuasalah setiap senin atau kamis dan hari-hari utama yang lainnya.
Ketujuh, keluarkanlah dari harta untuk zakat,
shodaqah jariyah selain infak buat keluarga. Itu agar harta menjadi tolak bala
di dunia dan penyelamat di akhirat.
Kedelapan, pupuklah tali silaturahim sampai
mati. Karena memelihara silaturahim yang sudah ada pertanda sehatnya
akal.Jangan mengeluarkan perkataan dan perbuatan yang akan memutuskan
silaturahim. Janganlah mempunyai musuh satu pun dan dimana pun. Karena
permusuhan itu akan menjauhkan hati dari rasa tenang
Kesembilan, tanamkan secara mendalam hakikat syukur
dalam jiwa dan daya nalar. Bersikaplah sabar dalam menghadapi segala persoalan
dan selalulah merasa ridho akan segala kejadian
yang menimpa. Karena semua itu takdir Allah. Betapapun manusia berlomba
meraih keinginan, takkan mampu melampaui takdir yang telah digariskan oleh
Allah Swt.
Kesepuluh, raihlah ketenangan dan kestabilan
hidup dengan cara munajat, muhasabah, tafakur dan pemenuhan hak secara
seimbang.
Dengan kesepuluh tips
ini, insya Allah kemabruran haji dan umroh akan terjaga. Bahkan umroh ke umroh
akan menjadi kifarat bagi dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya. Tiada balasan
bagi kemabruran tersebut kecuali surga dan segala kenikmatannya.Semoga. Amiiin.
Wallahualam.
*) Pimpinan Pondok Pesantren
Al-Muhajirin Purwakarta, Ketua umum MUI Kab. Pwk, Rois Syuriah PCNU Kab. Pwk
dan Ketua umum BAZNAS Kab. Pwk
No comments:
Post a Comment