“ Harta
dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebaikan yang terus
menerus adalah lebih baik pahalanya disisi tuhanmu serta lebih baik untuk
menjadi harapan.”(Q.S. Al-Kahfi: 46).
Ilmu yang
paling berat kita cari adalah ilmu tentang ma’rifat kepada Allah, bukan ilmu
fisika, kimiia, biologi, matematika, dan lain-lain. Sebab banyak ilmu tapi
tanpa ma’rifat (mengenal Allah), maka ilmunya tidak membawa kebahagiaan dan
kemaslahatan. Ilmu yang harus dipelajari oleh kita di yayasan Al Muhajirin
adalah al-ilmu al-nafie’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang semakin
mendekatkan diri kepada Allah, mampu menjaga amanah, berakhlakul karimah,
menyambungkan silaturahmi dan berbisnis untuk akhirat. Sabda Nabi: “Dunia itu
untuk empat golongan: Pertama, seseorang yang diberi rizki dan ilmu maka
ia pergunakan untuk bertakwa dan menghubungi sanak keluarga dan mengenal hak
Allah didalamnya (dibayarkan zakatnya dan dipergunakan untuk kebaikan) maka
orang itu dalam tingkat yang tertinggi. Kedua, seorang yang diberi ilmu
tetapi tidak berharta maka dengan niat
yang sungguh-sungguh ia berkata: Kalau saya diberi harta pasti saya akan
beramal sebagaimana si fulan maka ia mendapat pahala niatnya dan pahal kedua
orang itu tidak berbeda-beda. Ketiga, seorang hamba yang diberi kekayaan
tetapi tidak bertakwa dan tidak digunakan untuk menghubungi sanak keluarga juga
tidak mengenal hak Allah didalamnya, maka orang ini ada pada sejahat-jahatnya
tempat. Keempat, seseorang yang tiada diberi harta dan tiada berilmu
lalu ia berkata: Andaikan saya mempunyai harta niscaya saya akan berbuat
sebagaimana kelakuan si fulan, maka ia berhasil dengan niatnya, nilai timbangan
keduanya sama dan tidak berbeda dalam timbangan dosanya.”(HR. At-Tirmidzi).
Sayidina Ali
ra. Waktu berkunjung ke rumah orang yang kaya raya dan rumahnya sangat bagus,
ia berkata: “Hendaknya rumah ini terbawa ke akhirat caranya adalah dengan
menjamu tamu dan memelihara silaturahmi
juga menjaga hak-hak Allah.” Menjaga hak-hak Allah diantaranya rumah
yang kita pakai digunakan untuk menjalin cinta kasih dengan Allah lewat bangun
di waktu malam. Dalam surat Al-Kahfi ayat 28 Allah berfirman yang artinya: “Dan
besabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan
sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling
dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia dan janganlah
engkau mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami,
serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” Nabi
bersabda: “ketika anak adam meninggal yang akan abadi hanya tiga perkara yaitu
ilmu yang bermanfaat,anak shaleh yang mendoakan untuk orang tuanya dan shadaqah
yang mengalir pahalanya.”(HR.Bukhary Muslim).
Seseorang berkata: “ini hartaku ini hartaku.” Maka
Rasulullah bersabda: “mana hartamu itu?harta yang kamu makan akan rusak,harta
yang akan kamu pakai akan binasa,dan harta yang kamu shadaqahkan telah kamu
abaikan.”(Al-hadist). Sesungguhnya engkau diciptakan untuk manusia dan manusia
diciptakan untuk akherat.Pesan Nabi SAW.Kepada Fatimah putrinya yang tercinta
saat sebelum tidur: “Fatimah jangan dulu engkau tidur sebelum menghatamkan
Al-qur’an, mendapat syafa’at dari Nabi SAW, diampuni dosanya oleh semua mukmin dan
beribadah haji ke baitullah. Caranya dengan membaca surat al-ikhlas sebanyak
tiga kali pahalanya sama dengan menghatamkan Al-qur’an,membaca istigfar sebelum
tidur untuk mukminin dan mukminat maka kamu akan diampuni oleh mukminin dan mukminat,
membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir maka akan mendapat pahala haji dan
umroh, dan membaca shalawat kepada Nabi SAW. Maka akan mendapat syafa’at Nabi SAW.”Harta yang berkah bisa menjaga lidah, menjaga farji, memelihara amanah, silaturahmi
dan berbisnis dengan akhirat. Para ulama sufi berkata, bohong besar bicara
cinta kalau tiba waktu malam tidak mau berdua-duaan untuk mencirahkan isi
hatinya dengan yang dicintainya. Karena itu kalau kita mencintai Allah SWT, jangan tinggalkan malam untuk bermunajat
kepada Allah SWT seolah-olah kita berdua dengan Allah SWT. Ditengah keheningan
malam disertai dzikir malam dan qiyam li al-khair al-anam.
Simaklah ayat
yang diatas, harta dan sanak keluarga itu tidak akan pernah abadi bahkan hanya
hiasan sementara yang fana. Dunia dan segala perhiasannya akan abadi manakala
semuanya bukan hanya untuk pemuasan pribadi tapi diproyeksikan pada sesuatu
yang bermanfaat secara bersama-sama disertai
dengan harapan agama. Kesenangan ini
bukan hanya sekejap tapi kekal abadi di akhirat. Sabda Nabi SAW:”Dunia itu
tanaman akhirat.” Sekarang saat bercocok tanam dan berpayah-payahan agar kelak
bisa panen di akhirat lewat kesuksesan dalam mendidik agama pada anak, mereka
memperoleh ilmu yang bermanfaat dan kalau mempunyai harta bershadaqahl untuk
agama Allah SWT. Para ulama tafsir dalam menafsirkan ayat diatas, ada yang
mengartikan al-baaqiyaat al-shaalihaat adalah shalat fardu, qiyam al-lail,
shadaqah, akhlakul karimah, dan membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Menurut
saya semua penafsiran itu bagus dan saling melengkapi karena semua kebaikan tersebut
lebih besar pahalanya dan lebih kekal manfaatnya. Demikian diantara cara
mengabadikan yang fana(rusak). Salah satu cara mengabadikan yang fana
menjadikan aktifitas dalam kondisi ingat kepada Allah.
Aktifitas
apapun yang kita lakukan harus interaktif yang intensif dengan Allah SWT tidak
perbalistik, simbolistik dan tidak formalistik. Itulah sebabnya setiap perintah
atau larangan dalam al-Quran, baik bersifat thalibi atau khabari selalu ada
asma dan sifat Allah diakhir ayatnya atau terdapat pujian bagi yang bertakwa,
bersabar dan bertawakal kepada-Nya. Bahkan perintah bertakwa dan rasa takut sering diulang-ulang walaupun dalam satu ayat Al-Quran. Yang lainnya adalah ketulusan dan kesucian hati. Hati harus
bersih dari penyakit riya dan hasud, ditunjukan peribadahan itu kepada
pencapaian pahala diakhirat yang kekal. Dan yang paling
dominan mengabadikan yang fana adalah mengeluaran hartanya untuk wakaf yang
bermamfaat di jalan Allah seperti masjid, madrasah dan sarana Agama lainnya. Wa
Allahu a’lamu bi al-shawab.
Oleh : DR. KH. Abun Bunyamin, MA (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin)

No comments:
Post a Comment