Oleh: DR. KH. Abun Bunyamin, MA*)
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهَ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Katakanlah (Muhammad) “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S. Ali Imran : 31)
Pada akhir QS Ali Imran ayat 30, dikemukakan bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan orang yang pernah bersalah diberi kesempatan menghapus amalan yang jahat dengan banyak-banyak berbuat baik disertai memohon ampun. Bila Allah demikian cinta dan sayang terhadap kita, mengapa kita membiarkan cinta-Nya “bertepuk sebelah tangan”? Kita pun semestinya mencintai-Nya sebesar cinta yang Dia berikan.Dalam Tafsir Al-Thabari disebutkan bahwa para ahli tafsir berbeda pendapat tentang sebab turunnya ayat ini. Sebagian para ahli berpendapat bahwa ayat ini diturunkan pada suatu kaum di masa Rasulullah SAW yang berkata: “Sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami.” Maka Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi Muhammad untuk berkata kepada mereka, “Bila ucapan kalian benar maka ikutilah aku, karena itu merupakan bukti kejujuran ucapan kalian itu.”
Golongan lain berpendapat bahwa ayat ini adalah firman yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada utusan Nashrani Najran yang datang kepadanya. Bila Ucapan mereka tentang keagungan kisah Isa itu benar, maka itu menjadi bukti keagungan Allah dan kecintaan mereka terhadap-Nya, oleh karena itu ikutilah ajaran Muhammad SAW.
Sedangkan dalam Tafsir al-Maraghiy disebutkan bahwa ayat ini diturunkan ketika Nabi SAW mengajak Ka’ab bin al-Asyraf dan pengikut-pengikutnya dari kaum Yahudi untuk beriman, mereka menjawab, “Kami adalah anak-anak dan kekasih-kekasih Allah.” Maka Allah memerintahkan Nabi SAW untuk berkata pada mereka, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian untuk mengajak kalian beriman kepada-Nya, bila kalian benar mencintai-Nya maka ikutilah dan teladanilah perintahku niscaya Allah akan mencintai dan meridhai kalian.
Ayat ini menunjukkan wajibnya mencintai Allah, ciri-ciri, akibat, dan manfaatnya. Dalam kitab al-Jami li ahkamil Qur’an, al-Azhari berpendapat bahwa cinta hamba untuk Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan mengikuti perintah keduanya. Sedangkan cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya adalah anugerah ampunan bagi mereka.
Dalam kitab Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim wa al-Sab’i al-Matsani, Imam al-Ghazali berkata, “Cinta merupakan ungkapan kecondongan perasaan pada sesuatu yang menyenangkan bila kecondongan itu menguat maka disebut cinta sejati (‘isyq).” Kebanyakan mutakallimin berpendapat bahwa cinta Allah merupakan bagian dari keinginan yang hakikatnya hanya berkaitan dengan makna dan manfaat jadi mustahil cinta itu berkaitan dengan Dzat Allah dan sifat-Nya. Sedangkan menurut para ‘Arifin dari ahlusunnah wal jamaah berpendapat cinta itu berkaitan dengan dzat Allah.
Sahl bin Abdullah, seperti dikutip dalam kitab al-Jami’ li ahkam al-Qur’an karangan Imam al-Qurthubi, berpendapat bahwa ciri cinta kepada Allah adalah mencintai al-Qur’an; dan ciri cinta pada al-Qur’an adalah mencintai Nabi SAW; dan ciri cinta pada Nabi SAW adalah mencintai sunnah; dan ciri cinta pada Allah, al-Qur’an, Nabi, dan Sunnah adalah mencintai akhirat; dan ciri cinta pada akhirat adalah mencintai diri sendiri; ciri cinta pada diri sendiri adalah membenci dunia; ciri benci pada dunia adalah tidak membawa dari dunia itu kecuali bekal dan kehidupan yang sepadan.
Kecintaan dan keimanan seorang hamba kepada Rabbnya adalah wajib, ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
"Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya". (HR. Bukhari)
Dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb mengatakan bahwa cinta kepada Allah bukan hanya pengakuan mulut dan bukan pula khayalan dalam angan-angan. Tetapi ia harus disertai sikap mengikuti Rasulullah SAW., melaksanakan petunjuknya, dan melaksanakan manhaj-Nya dalam kehidupan. Iman bukan sekadar kalimat yang terucapkan, bukan sekadar perasaan yang bergetar dalam hati, dan bukan sekadar simbol-simbol yang dipajang. Tetapi, iman adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan melaksankan manhaj (peraturan) Allah yang dibawa oleh Rasul itu. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa yang melaksanakan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak."
Mentaati Rasulullah Muhammad SAW adalah syarat mendapatkan cinta dan ampunan Allah SWT Yang Maha Pengampun dan Yang Maha Penyayang. Cara mentaati Rasulullah SAW adalah mengikuti jalan-jalan yang telah beliau tetapkan dan beliau tempuh (ittibâ’ al-sunnah). Hal ini senada dengan firman Allah:
وَمَا اٰتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.”. (QS. Al-Hasyr: 7)
Dalam Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 diriwayatkan Khalid bin Walīd ra bertanya kepada Rasulullah SAW tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi dengan pertanyaan: “Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”
Rasulullah SAW menjawab: “Camkan makna ayat ini (QS Ali Imran ayat 31)”, Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”
Nabi SAW menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.”
Selain dijanjikan oleh cinta dan ampunan-Nya, orang-orang yang dicintai Allah akan mendapat banyak keistimewaan. Seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ. رواه البخاري
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari)
*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin
*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin
No comments:
Post a Comment